Tujuan yang Jelas

•12 Agustus 2013 • Tinggalkan sebuah Komentar

vision-Assasination Classroom ch. 47 pg. 6

Apa yang membedakan orang yang sukses dan yang tidak? Apakah kemampuan, kerja keras, keberuntungan? Ya, itu semua mempengaruhi, tapi ada satu hal yang berpengaruh sangat besar, yaitu pandangan orang tersebut terhadap tujuannya. Apakah seseorang tersebut memiliki tujuan yang jelas atau tidak. Kata lain yang tepat untuk menggambarkan tujuan dalam konteks ini adalah niat. Apakah dia memiliki niat yang jelas atau tidak.

Seseorang membutuhkan tujuan yang jelas untuk bisa melangkah dengan pasti. Seorang olahragawan yang notabene kuat berjalan pun jika tidak punya tujuan melangkah yang jelas, akan terlihat seperti orang mabuk yang jalannya tidak karuan. Tapi kalau jelas tujuannya ke depan, dan dia melaksanakannya, maka dia akan sampai ke tujuannya, sedikit demi sedikit.

Potongan komik di atas menggambarkan hal tersebut juga. Seekor sapi yang malas, yang hanya menatap rerumputan di depannya, meskipun badannya jauh lebih besar dari serigala, akan kalah oleh serigala yang punya niat kuat untuk memangsa. Jika sapi tersebut mengubah niatnya dari sekedar merumput ke melawan serigala, pastinya serigala tersebut akan kewalahan.

Pembelajaran

•19 September 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kata pembelajaran berasal dari kata dasar “ajar”, mendapat imbuhan ber menjadi “belajar”, dan mendapatkan imbuhan lagi menjadi “pembelajaran” yang artinya proses belajar. Yang namanya proses, pasti gak seketika, butuh waktu dan usaha. Ini ada secuil kisah dari pengalaman pribadi tentang belajar.

Belajar itu seperti jalan jalan ke suatu tempat. Detailnya baru terlihat setelah diulang berkali kali.

Pernah gak teman teman jalan ke suatu daerah yang baru, ke lingkungan yang baru, atau gak usah jauh jauh, ke RT sebelah yang jalannya baru pertama kali dilalui. Misalnya pas nyari jalan pintas ke sekolah, atau ke rumah temen untuk main. Pasti bingung kan ngeliatnya. Ini jalan ujungnya nyambung ke mana? Ini ada anjing galak apa nggak ya? Ini seberapa panjang jalannya? dan masih banyak pertanyaan yang mungkin terlintas.

Kali kedua ke sana, sudah mulai terbayang. “Ah iya, sebelumnya pernah lewat sini. Habis ini belok kiri terus lurus, ntar sampe ke rumah”. “Pas kemarin lewat sini, digonggongin anjing. Sekarang menjauh dari gerbangnya deh pas lewat depan rumah itu.” dst dst. Ujung jalan sudah tidak terlalu diperhatikan karena sudah tau jawabannya. Hal hal lain yang waktu pertama kali menjadi pertanyaan pun sekarang menjadi hal trivial.

Ke sekian kalinya, badan seakan sudah jalan sendiri. Tak perlu berpikir lama, sudah banyak hal yang diketahui, sampai sekecil kecilnya, sampai sedetil detilnya. Bahkan posisi tong sampah yang berubah pun bisa tahu. Rumput yang dipangkas juga disadari. Makin ahli kita terhadap jalan itu.

Begitu pula dengan belajar suatu hal. Sebelum mulai, kita tidak tahu apa apa soal itu dan pasti bingung. Atau kita hanya pernah mendengar informasi dan belum mengalaminya sendiri, makanya ilmu yang ada juga terbatas. Pertama kalinya kita membaca, kita hanya tahu garis besarnya saja, kulit luarnya saja. Kedua kalinya, sudah mulai terbayang. Ketiga kali dan seterusnya, kita makin menemukan hal hal kecil yang dilewatkan waktu pertama kali membaca, padahal yang dibaca sama. Makin lama kita pun makin ahli tentang hal tersebut.

Jangan pernah menyerah kalo belum paham akan sesuatu, ulangi dan terus ulangi. Ada penelitian yang mengatakan bahwa untuk menjadi ahli akan sesuatu, orang butuh waktu 7 tahun. Jadi jangan berhenti di tengah jalan. Nantinya kita akan mengerti, makin mengerti, dan makin ahli.

Hello World

•31 Juli 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

Mungkin terlihat aneh karena posting “Hello World” ada di post nomer sekian di blog ini :D. Padahal biasanya post pertama dari hampir semua blog adalah itu. Gakpapalah, sesuatu yang aneh itu menarik, yang menarik itu membuat penasaran, dan yang membuat penasaran bisa jadi menyenangkan. Jadi yang aneh, bisa jadi menyenangkan.

Apa yang mau ditulis? Awalnya ingin mengatakan “Aku kembali” tapi gak jadi, karena aku tak pernah pergi. Jadi kutulis, “Apa kabar dunia, lama kita tak bersua.”. Yang akhirnya tercipta sebuah puisi pendek terinspirasi dari kata Hello World :

Hello World

Apa kabar dunia, lama kita tak bersua

Beribu masa kulalui tanpa hitam dan putihmu

Beribu kenangan tercipta

Beribu sejarah berlalu

 

Aku tak pernah pergi

Tapi aku tak berada di sini

Semoga jumpa ini lekang

Tak lagi hampa dalam masa yang datang

 

Selanjutnya, kalo di berita biasanya ada sekilas info, di sini juga dikasih quick update deh. Sekarang aku lagi berada di Kanazawa, Jepang. Lagi “study”. Ceritanya sih belajar, padahal tetep aja banyak main sama jalan2 (belajar juga kok *membela diri*). Di sini lagi musim panas. Jangan bayangin musim panas di sini kayak di anime2. Panasnya lebih kerasa dan lebih keliatan. Lebih kerasa lagi karena sekarang bulan Ramadhan. Quick updatenya cukup sekian, terus cerita tentang puasanya aja ya? (tidak menerima jawaban tidak)

Puasa di musim panas di Jepang itu nikmat. Kenapa nikmat? Karena banyak cobaannya. Kalo banyak cobaan, berarti banyak pahala. Kalo banyak pahala, berarti lebih bermakna. Semoga aja lulus cobaannya :p.

  1. Panas
    Tentu saja musim panas itu panas. Dari nama juga kelihatan. Tapi kalo di Indonesia panasnya itu ‘gerah’, di sini panasnya beda. Suhu memang tinggi, bisa sampe 38 derajat celcius. Tapi yang lebih bikin panas itu teriknya matahari. Jam 8 pagi suasananya mirip jam 12 siang di Indonesia. Keluar tanpa pake penutup kepala tidak direkomendasikan.
  2. Panjang
    Apa nih yang panjang? Waktunya. Siang hari di musim panas lebih panjang, dan otomatis waktu puasanya juga lebih panjang. Sahur sekitar jam 3, dan buka jam 7 malam. Ini sudah mulai pendek lagi. Pas puncaknya, subuh bisa jam setengah 3 dan magribnya jam 8-9 malam. Alhamdulillah gak ngalamin yang ini langsung. Bisa bisa syok, habis terawih langsung sahur dan solat subuh :)).
  3. Pemandangan
    Musim panas enaknya pake baju yang bikin sejuk, yang terbuka, yang tipis jadi angin bisa masuk. Nah, godaan besar tuh xD. Apalagi buat cowok2, termasuk aku. Dan sekali lagi, jangan samain kayak di anime. Di sini pakaiannya decent, tapi tetep aja, “lumayan” :p.
  4. Tuntutan
    Reputasi orang Indonesia masih gak terlalu baik di sini, makanya harus ditunjukkan seperti apa kita sebenarnya. Siapa yang mau dibilang orang Indonesia itu malas, suka telat, sering cemberut, dll yang jelek2? Gak ada kan? Karena itu juga bukan budaya Indonesia. Itu cuma kebiasaan beberapa orang Indonesia yang secara salah sudah ditolerir. Makanya di sini kita harus bisa nunjukkin yang terbaik. Orang Indonesia yang bersemangat, pekerja keras, pintar, baik hati, rajin menabung dll. Nah, melakukan hal itu gak semudah teorinya. Pagi2 ke kampus naik sepeda (buat menghemat :p), ngerjain macem2 (penelitian, PR kuliah, main game, buka2 website, sampe ngeblog) di lab sampe sore itu melelahkan. Apalagi panasnya bikin lemes (di lab gak panas sih, pake AC :D). Tapi kalo ini berhasil dilalui, semoga benar2 bisa berubah ke arah yang lebih baik.

Waw, banyak juga. Berhubung dah mau magrib, ceritanya segitu dulu. Dilanjut lain kali dalam episode selanjutnya :).

 

Air

•19 Agustus 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Semua yang baca ini pasti pernah menemukan benda yang kutulis sebagai judul di atas :D. Air adalah benda yang paling penting dalam kehidupan. Bahkan ada beberapa legenda (dan fakta) yang bercerita bahwa kehidupan bermula dari air. Terutama untuk manusia. Yang lebih jelas lagi, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Memang manusia baru menyadari sesuatu itu berharga saat dia kehilangannya. Seperti saat ini, di kosan, aku kehilangan air. (apa? kehilangan air? mana mungkin? *drama button*). Ya, tapi itulah kenyataannya. Air keran tidak nyala sejak kemarin. Bukan karena dimatikan oleh PAM karena gak bayar, soalnya kosanku yang sekarang gak pake PAM, tapi pake pompa. Dan pompanya mati sejak kemarin sore. Padahal listriknya nyala. *panik panik*

Aoi sampe ngambek karena gak bisa masak kemarin, soalnya gak ada air. Hahaha xD. Trims buat Quentin yang udah minjemin kamarnya sehingga bisa mandi hari ini. Kalo gak, gak tau deh bakal kayak apa baunya :p.

Sekarang sih pompanya udah dibenerin, baru dibenerin tepatnya. Padahal katanya mau dateng jam 8, ternyata habis jumatan baru dateng. Entah ibu kosnya atau tukangnya yang salah. Well, gak penting siapa yang salah, tapi yang penting air sudah mengalir lagi xD. Sekarang air so deka (mengikuti iklan suatu AMDK). Alhamdulillah :).

Nah, tambahannya, biar gak cuma isi rant doang setelah vakum sebegitu lamanya ada beberapa:

1. Di rumah, kalo ada pompa, usahakan ada bak penampungan yang cukup besar juga. Jadi pompa itu gak mati-nyala-mati-nyala terus, jadi gak gampang rusak. Meskipun rusak, setidaknya cadangan airnya cukup untuk mandi sampe 1-2 hari, sampe pompanya selesai diperbaiki.

2. Hemat air. Sebelum dipaksa untuk hemat, hematlah dulu. Kalo suatu saat air tidak bisa mengalir lagi karena pemborosan sekarang (contohnya pas alam sudah rusak, atau air jadi langka), maka kita yang repot.

3. Air itu krusial. Untuk memblokade suatu daerah, cukup dengan memblokade sumber airnya. Kalo daerah tersebut gak punya siklus air yang bagus, gak akan bertahan lama :D. Tanpa makanan orang bisa bertahan seminggu, tapi tanpa air, orang paling lama hanya dua tiga hari.

4. Air itu H2O. :p

Mitos (part 2)

•6 Juli 2011 • 3 Komentar

Melanjutkan yang kemarin, tentang orang indonesia lebih percaya mistis daripada ilmiah (semoga cuma orang orang tertentu aja. Aku yakin banyak orang yang berpikiran logis 🙂 ). Ada satu cerita tentang terbentuknya sebuah mitos. Cerita ini pernah kudengar atau kubaca dari suatu tempat yang lupa dimana, dan agak berbeda versinya. Intinya sih sama, menunjukkan kepercayaan buta terhadap suatu mitos.

Alkisah tersebutlah seorang laki laki. Dia seorang saudagar kaya yang merintis dari bawah. Setelah pasif income mulai diperolehnya, dia jadi suka berkebun. Di rumahnya banyak ditanami pohon pohon, baik itu di kebun maupun di pot. Nah, ada satu pohon yang sangat disukainya, dia letakkan di pot yang indah, ditaruhnya dekat dengan rumah, dan disiraminya tiap hari. Laki laki ini punya anak yang selalu memperhatikan kebiasaan ayahnya.

Setelah saudagar ini mulai tua dan sakit sakitan, dia berpesan kepada anaknya agar menyirami pohon kesayangannya tiap hari. Anaknya pun menuruti permintaan itu karena baktinya. Mautpun datang menjemput saudagar. Anaknya melanjutkan usaha yang dirintis ayahnya. Semakin lama usaha tersebut makin maju.

Waktu terus berlalu, anak kecil jadi dewasa, begitupun anak saudagar pertama tadi (yang menjadi saudagar juga), akhirnya jadi dewasa, tua, dan mendekati akhir usia. Dia pun berpesan kepada anaknya lagi agar pohon kesayangan si kakek disirami tiap hari. Si anak pun ternyata anak yang berbakti (bahagia ya kalo keturunannya seluruhnya anak yang berbakti gitu :p). Pohon itupun disiraminya tiap hari. Begitulah yang terjadi di setiap generasi. Si pohon pun semakin tua dan akhirnya mati.

Keturunan ke sekian tetap menyirami pot tersebut layaknya bapak, kakek, buyut, dan moyang moyangnya. Tanpa mengetahui alasan sebenarnya pot tersebut disiram. Padahal pohon yang tadinya mendiami pot tersebut sudah lama tidak ada. Sewaktu anaknya bertanya kenapa, si bapak tidak bisa menjawab. Dia hanya tau bapak dan kakeknya selalu melakukan ini setiap hari dan berpesan yang sama kepadanya.

Kira kira begitu juga yang terjadi pada beberapa hal :).

Mitos (part 1)

•5 Juli 2011 • 3 Komentar

Ada satu hal yang kental di budaya Indonesia, terutama budaya Jawa. Yaitu mitos. Kepercayaan yang dipunyai sangat kuat, bahkan mereka siap mengorbankan apapun untuk yang dipercayainya. Bahkan kadang kadang alasan yang digunakan untuk mempercayainya kurang rasional. Aku tidak sedang dan juga tidak akan menjelek-jelekkan bangsa sendiri. Bagaimanapun aku orang Indonesia dan aku bangga akan hal itu :).

Salah satu contoh yang jelas adalah beberapa hari ini. Sebenarnya, beberapa bulan belakangan ini aku mempersiapkan sebuah acara istimewa, yang hampir semua orang menginginkannya. Yaitu pernikahan. Ada beberapa hal yang menyebabkan persiapannya tersendat, salah satunya adalah mitos. Ada beberapa hal misalnya hari pasar pernikahan tidak boleh sama dengan hari pasar kematian keluarga. Terus bulan pernikahan tidak boleh sama dengan bulan pernikahan orang tua. Terus katanya kalo sudah mulai deket hari H gak boleh ketemu. Terus kalo misalnya sudah nikah, selama semingguan waktu pergi gak boleh berdua. Dst dst dst (Hei, menggunakan dst itu enak :D. Meskipun cuma sedikit, kelihatannya jadi banyak banget kan?).

Ya, ada beberapa hal yang bisa ditarik benang logika dari mitos itu. Karena orang dulu itu sebenernya pinter pinter, cuma kadang karena kepercayaannya terlalu kuat, jadi tidak mempertanyakan kenapa begini kenapa begitu. Entah takut dibilang ngelawan ke orang tua, atau alasan lain.

Di post kali ini aku ngasih satu contoh. Di post berikutnya aku bakal nulis sesuatu tentang mitos lagi. Ya, terutama mitos jawa sih :).

Oke, yang akan kujelaskan dengan logika adalah tentang pasangan suami istri baru harus ditemenin keluarganya waktu masih awal nikah. Kenapa begini kenapa begitu *jreng jreng jreng*!!!

Fakta pertama (dan satu satunya yang jadi dasar pemikiran :p), orang dulu kebanyakan tidak mengenal pasangan pengantinnya waktu awal menikah. Soalnya ada yang dijodohkan, ada juga yang memang aturan di keluarganya yang tidak membolehkan laki laki bergaul dengan wanita, dan sebaliknya. Karena hal ini, akibatnya pas pertama ketemu habis menikah, si wanita kadang kadang masih malu sama keluarga pasangannya. Karena itu juga, biar gak malu, ada keluarganya yang nemenin sampe si wanita cukup beradaptasi.

Tapi di jaman ini, sudah tidak layak lagi diaplikasikan. Apalagi kalo memang si calon pengantin sudah kenal sama keluarga pasangannya. Tapi ya begitulah :p.

Satu contoh lain soal mitos (tidak ada hubungannya sama pernikahan kali ini). Pernah dengar soal tikungan maut dimana mobil harus bunyiin klakson? Ya, ada suatu daerah di Jawa Barat yang sering terjadi kecelakaan. Katanya, di situ ada penunggunya, lalu biar penunggunya gak marah, kalo lewat harus ngasih salam pake klakson. Nah, mari kita kupas logika di baliknya. Kenapa begini, kenapa begitu *jreng jreng jreng*!!!

Itu supaya mobil di seberang tikungan tau kalo ada mobil lain mau lewat ._. . Yup, sesimpel itu. Jadi bukan penunggu, melainkan memang ngasih tau orang lain supaya hati hati. Menurut cerita temenku, hal itu dipopulerkan oleh orang belanda, alesannya karena “Orang Indonesia lebih percaya mistis daripada ilmiah”. Miris ya…

-bersambung-

Balonku

•3 Juli 2011 • 2 Komentar

Balonku ada lima

Rupa rupa warnanya

Hijau kuning kelabu

Merah muda dan biru

Meletus balon hijau (DOR!)

Hatiku sangat kacau

Balonku tinggal empat

Kupegang erat erat

 

Ingat lagu itu? Lagu anak anak yang penciptanya sendiri gw gak tau. Tapi dulu sempet populer. (sekarang masih populer sih, cuma dah jarang denger karena popularitasnya kalah sama lagu lagu remaja.) Anak anak lebih sering nyanyiin lagu lagunya band tertentu, baik lokal maupun internasional, daripada nyanyi lagu anak anak. Padahal ilmu dari lagu anak anak itu banyak. Dari ajaran untuk mensyukuri nikmat, menabung, kebanggaan, dll. Untuk lagu lagu lain, bisa dilihat di http://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia . Beberapa ada di situ. Di tempat lain juga banyak, silahkan tanya mbah gugel.

Yang kali ini mau gw bahas tentang balonku. Lagu itu lagu keren. Keren karena banyak hal. Terutama bisa dimainkan seperti ini :

1.Lagunya sering kepeleset baris keduanya, jadi “merah kuning kelabu”. dan menjadikan tidak ada balon hijau yang bisa meledak. Kalo dinyanyikannya pake merah kuning kelabu, seharusnya di akhir balonnya masih lima, soalnya yang meledak bukan balon punya si penyanyi. Karena itu pula lagunya bisa di repeat sampe bosen.

2. Lagu ini paling bisa di mix dengan lagu lain, terutama lagu perjuangan (mungkin karena ketukannya sama :p). Coba deh nyanyiin lagu balonku pake nada lagu Gugur Bunga. Atau nyanyiin lagu Garuda Pancasila pake nada balonku ada lima. Ada juga lagunya Yuki Kajiura yang bisa dicampurkan dengan Balonku, tapi aku lupa judulnya.

3. Lagu ini paling sering dimainin kata katanya. Dinyanyiin dengan huruf vokal sama semua (selain lagu Bintang Kecil). Misalnya dengan huruf vokal “o”. Bolonko odo lomo… dst.

4. Lagunya dilanjutkan ke balonku ada empat… dan seterusnya, mengikuti pola lagu anak ayam turun sejuta. Di akhir lagu, saat semua balon sudah habis, menangislah yang keras.

5. Nyanyinya mulai dari balonku ada 256, lalu sebutkan jenis jenis warna sesuai dengan spektrumnya. Kalo sudah bisa, lanjutkan ke balonku ada 16 bit dan 32 bit. Yang meledak balon apa, terserah anda :D.